Halaman

Selasa, 12 November 2013

ada yang hil*ng

Sekarang saya sedang bingung pada diri saya sendiri (?) Maunya apa coba? -_-
Mengerjakan dua hal atau lebih dalam satu waktu biasanya bisa saya lewati. Tapi entah kenapa untuk kali ini (beberapa waktu terakhir) seakan kehilangan beberapa bagian dari semangat dan gairah yang saya punya. Jadi kurang fokus. Dan planing yang sebenarnya sudah saya rancang jauh-jauh hari harus menjadi korbannya, dan pada akhirnya jadi kacau beliaulah planing-planing saya..huks T_T

Tidak ada yang saya salahkan. Tidak!
Amanah bejubel? Target segunung? Tuntutan sana-sini?
Semua itu sebenarnya bisa saya hadapi, lalui dan lewati. (bisa koq!) >> asal manajemen waktunya bener noh! *catet is!
Tapi, ya itu dia. Saya juga heran, kenapa sekarang ini semangat saya seakan hilang separohnyah..>,<
Btw, ada yang tau separohnya lagi dimana? kalo ada yang nemu, tolong segera hubungi saya! help me ya gaiiisss.. -__-

Entahlah, sampai tulisan ini diturunkan pun saya masih mencari sepotong yang hilang itu..*jambakrambutsendiri, mulai anarkis .-.

~~continued...~~ (sepertinya)

Gerlong, 13'11'13 >> angka cantik ya ternyata, tapi tapi tak secantik semangatku kali ini..#eaa 3x

Minggu, 27 Oktober 2013

Song of Life

-aish.photoscollection-
Ingat zaman-zamannya dulu masih SMP, dimana saya mulai menikmati hobi saya menyanyi berawal dari memenangkan lomba olah vokal tingkat SMP dan ada faktor jiwa seni yang diturunkan oleh ayah saya. Sebenarnya saya sudah mulai menggeluti dunia menyanyi ini sejak SD, hanya saja pada saat itu saya belum mempunyai keberanian diri untuk unjuk suara dalam lomba-lomba. Saya yang pemalu tidak berani menerima tawaran guru kelas saya untuk mewakili sekolah untuk mengikuti lomba menyanyi Pupuh (nyanyian sunda) tingkat SD, padahal ayah pun mendukung baik dan mendorong saya untuk mencoba, tapi saya belum berminat pada saat itu. Saya lebih menikmati menyanyi qaisidah/rebana di madrasah tempat saya sekolah agama dulu daripada ikut lomba itu.

Nah, ketika masuk SMP grup qasidah/rebana mulai tidak berjalan lagi karena masing-masing dari anggotanya melanjutkan di SMP yang  berbeda dan otomatis digantikan oleh adik-adik. Rasa kangen saya pada dunia tarik suarapun muncul, ibarat peribahasa "pucuk di cinta, ulam pun tiba" pada saat itu ada perlombaan olah vokal tingkat SMP, teman-teman saya tanpa sepengetahuan saya ternyata mendaftarkan saya pada panitia. Awalnya saya sempat ogah-ogahan dan mau mengundurkan diri karena tidak begitu besar rasa percaya diri saya , tapi saya akhirnya luluh karena melihat teman-teman saya gigih berjuang sampai-sampai membeli beberapa CD karaoke untuk saya pakai latihan. Ah, mereka so sweet sekali pikir saya saat itu..:')
Dari sana saya mulai mendalami dunia tarik suara. Setelah menjuarai olah vokal tingkat SMP, dari sana guru kesenian pun mulai mengirimkan saya di beberapa ajang lomba serupa tingkat kabupaten, tapi tidak sampai menjuarainya karena sainganpun semakin berat dari teman-teman daerah lain. Selain itu, di acara-acara sekolah pun tidak jarang saya mengisi barang satu buah lagu. Genre lagu yang saya sering bawakan pada saat itu adalah pop. Referensi yang sering saya dengarkan bukan hanya pop saja. Aliran rock, jazz, dan rap pun saya suka. Beberapa penyanyi/grup yang jadi playlist favorit di komputer saya saat itu adalah Westlife, Allicia Keys, Backstreet Boys, My chemical romance, Maroon 5, dan penyanyi lainnya yang didominasi dari luar negeri. Dan penyanyi/band favorit dari dalam negeri sendiri pada saat itu adalah Rossa dan J-Rock's. Oh, kalau saya ingat-ingat lagi masa itu malu jadinya...>_<
Selepas meninggalkan bangku SMP dan memasuki dunia SMA, saya dari awal sudah meniatkan diri untuk masuk ke dalam ekskul yang akan terus mengasah hobi saya ini. Akan tetapi...
entah kenapa baru satu kali melihat ekskul itu saya jadi tidak begitu tertarik untuk mengikutiinya, salah satu yang jadi pertimbangannya yaitu latihannya yang bisa sampai malam serta pergaulan antara laki-laki dan perempuan anggota ekskul itu yang terlampau 'dekat' dan seakan tak ada jarak.
Dan saya pun lebih tertarik pada kegiatan yang diadakan oleh salah satu ekskul keagamaan, sebutlah ROHIS. Nama nya IPMA (Ikatan Pelajar Mesjid nur At-Ta'lim). Saya merasakan kesejukan tersendiri ketika berada di dalamnya, dan hobi nyanyi saya pun entah kemana saat itu. Dan genre musik yang saya senangi pun berubah haluan menjadi genre nasyid dan haraki. Bukan tanpa alasan saya menyukainya. Berawal dari ajakan kakak laki-laki saya yang mengajak untuk menyaksikan penampilan grup nya ikut Festival Nasyid di kota saya. Awalnya saya menolak, tapi demi mendukung kakak saya yang pada saat itu aktif sekali dalam grup nasyid yang di bentuk oleh pesantrennya. Dari sana saya sering mendengar lagu nasyid lewat kaset tape yang kakak saya putar selagi ia ada di rumah.
Dan mulai dari sejak itu saya senang sekali dengan yang namanya Nasyid. Sehingga saya sering menyengajakan untuk mendengarkan radio yang ada program nasyidnya, dan festival nasyid pun jadi agenda yang wajib dihadiri oleh saya dan teman-teman yang memang suka nasyid juga.
Ketika saya kelas 3 SMA, entah kenapa rasa kangen saya untuk menyanyi muncul lagi. Dan setelah me-lobby beberapa teman akhwat saya, akhirnya kami membentuk tim nasyid akhwat dadakan untuk mengisi acara perpisahan keputrian periode saya. Walaupun hanya sebentar kebersamaan tim nasyid dadakan ini, ada rasa kepuasan tersendiri.
Dan ketika masuk masa kuliah, sepertinya saya masih ditakdirkan untuk tidak jauh dari yang namanya menyanyi. Berawal dari iseng menerima ajakan teman satu kostan untuk mengikuti lomba festival nasyid akhwat tingkat universitas yang diadakan oleh Departemen Kemuslimahan LDK di kampus kami dalam memperingati hari kartini. H-2 lomba kami berdua masih mencari 2 orang personil lagi dari fakultas lain untuk membentuk grup nasyid akhwat dadakan itu, parahnya H-1 kami baru latihan benar-benar dengan serius -_-. Tapi ternyata 1 lagu nasyid berjudul "HIJRAH" dari Bestari tanpa diduga tanpa disangka membawa kami untuk memboyong juara 3, juga mengantarkan kami menjadi salah satu tim nasyid akhwat yang kerap diminta sebagai pengisi keputrian di beberapa jurusan dan fakultas di kampus kami.
-aish.photoscollection-

Saat mengisi di salah satu acara keputrian
Nama tim nasyid kami POLARIS, yang menurut teman saya yang mengusulkan nama itu artinya adalah sebuah bintang yang terletak tepat di atas kutub utara. Teirnspirasi dari sebuah drama dari negeri sana, yang salah satu percakapannya seperti ini>> "Jika kau tersesat di malam hari, carilah bintang POLARIS. Ia akan menunjukkanmu jalan pulang". Entahlah, menunjukkan nya seperti apa, yang pasti harapan dari tim nasyid kami terhadap nama itu semoga dengan syiar lewat dakwah syair yang kami bawa semoga bisa menjadi salah satu petunjuk/wasilah bagi yang siapa saja yang mendengarkan (pendengarnya akhwat saja tentunya).
Serta bisa menjadi penenang dikala gundah dan masalah yang adapun sirna seketika.. #tsaahh..
Tim Nasyid Polaris lengkap berlima ^_^
Tapi sebaik-baiknya obat penenang kegundahan dan kegelisahan adalah dengan membaca dan mendengarkan murratal Al-Qur'an. Karena Murratal al-Qur'an adalah sebenar-benarnya "Song of Life", karena disana terdapat berbagai solusi untuk setiap masalah ^_^
-aish.photoscollection-

Sabtu, 21 September 2013

Kontemplasi malam ini T_T



Mencoba untuk berkontemplasi malam ini, berapa kali saya mengecewakan orangtua? Tak terhitung sepertinya..
Dan hari ini pun kembali mengecewakan keduanya..
Saya bisa merasakannya sekalipun hanya lewat percakapan singkat di telepon..
A : "Maaf ma, hari ini gak jadi pulang (lagi).."
M : "Oh, ya udah ga apa2. Selesaikan dulu saja urusannya disana. Kalau sudah tidak terlalu sibuk, sempatkan pulang ya. Mudah2an urusannya selalu dimudahkan Allah SWT."
#Jlebbb..T_T

Seperti apapun kita anaknya, yang namanya orangtua ketika jauh dari anaknya pasti ada rasa rindu yang mungkin tidak terekspresi lewat kata-kata mesra.
Mereka curahkan lewat do'a dan sujud panjangnya di setiap sholat dikala siang dan malamNYA.
Berharap yang terbaik untuk anak-anaknya.
Berharap anaknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari mereka sendiri..:')

Lantas apa yang sudah kita perbuat untuk mereka?
Walaupun hanya sekedar do'a, sudah rutinkah kita melakukannya minimal 5 kali dalam sehari?

~semoga Allah SWT selalu menjaga mereka, disaat penjagaan kita tak sampai..~

“Rabbighfirlii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa” :')


Love them so much ya rabb.. :*

Gerlong, 22 September 2013..
(ditengah hujan yang membasahi hati ini T_T )

Minggu, 28 April 2013

Hanya sedang rindu kekasih saya..:')

Sebenarnya bukan lelah apalagi jenuh, bukan!
Tak pernah ada maksud untuk mengesampingkan amanah itu.

Mungkin iman saya sedang compang-camping atau sedang rapuh (mungkin).
Maklum saya hambaNya yg dhoif :')
Saya hanya rindu kekasih saya.
Itu saja.



 
Saya hanya rindu kekasih saya.
Rindu berdua.
Rindu menangis di penghujung malam itu.
Rindu momen di saat kami bisa berdua.
Saya mengadu.
Dan Ia mendengarkan.

Kenikmatan itu sepertinya jarang saya dapatkan sekarang.
Entahlah..
Mungkin saya terlalu sibuk memikirkan yang lain.
Astaghfirullah, maafkan saya.

 





Sekarang butuh sekali banyak waktu berdua denganNya
Tidak memikirkan yang lain dulu.
Dan nanti kalau saya sudah sedikit bisa mengobati rasa rindu saya.
Saya akan kembali.
Ya, saya akan kembali menatap semua yang ada di hadapan saya.
Karena saya pun sadar itu sudah menjadi tanggungan saya.
Yang jika saya benar cinta pada kekasih saya, saya harus tetap menghadapi semua itu.
Dan saya pun akan semakin dicintaiNya.

Gerlong, 28 April 2013
-ditemani cerahnya langit malam ini dan basahnya hati ini-

Kamis, 21 Maret 2013

I Love my jamilaaa :* :*


Iseng-iseng buka diary dung-dung ku, eh nemu tulisan ini jadi ingin nge-share di blog  deh ^0^.
Walaupun tulisannya geje dan ngaler ngidul, inti nya ---> perlakukan sesuatu sesuai dengan haknya,, hasyyaaahh >>

- 13 Mei 2012 -

“astaghfirullah..
kenapa ini semua file yang bentuknya MS word size nya jadi 0 kb, dan gak bisa dibuka...?
#asli jadi lemes -_-'
tugaskuu..”
-status FB ku hari ini...:(
mamaaaahh...
c jamilaa kembali ‘bertingkah’, kenapa lagi kau cantik??
Ayolah kemballi bersahabat dengan ku, seperti pertama kita kenal dulu. Masih ingat gak tanggal 31 Mei 2010 aku berkenalan denganmu? meskipun pada saat itu kamu belum ada nama nya. Yang pasti body luarmu membuat ku melirik untuk membelimu. Tau nggak  perasaan ku saat memilikimu? Seneng banget pastinya...sampai2 malem pertama mu di kamarku, aku gak bisa tidur, karena ingin mengenalmu lebih jauh dan ingin bermain dengan mu..
Dan bulan demi bulan, aku pun semakin merasakan kebermanfaatan mu... kau selalu menemaniku dalam mengerjakan tugas, menghilangkan stress ku dengan memainkan koleksi musik kesukaan ku, menonton film, mengedit foto, menyelesaikan tugas dakwah, sampai menyimpan gaya2 narsis ku...
Namanya manusia, ketika diberikan sesuatu yang baru, awal-awalnya dijaga, dirawat sepenuh hati...  Tapi lama kelamaan mulai tumbuh rasa bosan yang akhirnya ‘sesuatu’ yang sebelumnya sangat  di idam-idamkan itu mulai berkurang diberi perhatian. Seperti hal nya kamu ‘jamilaa’. Aku terlalu banyak ‘mendzolimi’ mu, membiarkan mu di ‘setrum’ listrik semalaman sedangkan aku terlupa sampai ketiduran dan melupakan mu... dan kau pun kurasa kepanasan karena aku sering lupa pula untuk memberikanmu cooler.
Terkadang ketika musim tugas datang tanpa ampun, kau stand by menemaniku non stop tanpa istirahat 1 jam pun selama 3 hari...
Ya Allah kalau dipikir-pikir betapa kejamnya aku ini...:(
Pertama kali kamu harus di ‘opname’ di BEC karena terjangkit virus yang menyerangmu sampai 2 ribu an lebih, aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan nasibmu dan isi mu...
Sekarang, sepertinya kamu butuh pengobatan lagi, di saat kantong ku sedang tidak bersahabat. Ku mohon jamilaa,,kamu baik2 saja ya...

I LOVE YOU JAMILAA...:*

-----------
itu tulisanku dulu yang lagi hilaf (heu), tapi sekarang alhamdulillah jamiila aku perlakukan dengan sebaik-baiknya, karena sadar ternyata ia telah menjadi salah satu teman dikala senang dan sedih. InsyaAllah aku tidak akan mendzolimi nya lagi. Akan ku jaga sepenuh hati. Ehehe *rada lebay*


Jamilaa yang setia menemani hari-hariku..#hasyah

Senin, 18 Maret 2013

#Part 2 : Seorang Kakak yang mencoba menjadi sosok -KAKAK-..:’)

Lanjutan...

Yang namanya adik kakak tidak akan terlepas dari konflik, begitupun dengan kami. Hampir setiap hari ada saja hal yang menjadi penyebab kami bertengkar, yang pada akhirnya terkadang diakhiri dengan tangisan dan aduan adik saya pada mamah, dan lagi-lagi saya yang kena cipratan marah. Tapi kata-katanya sih menurut penelitian pertengkaran antara adik kakak itu suatu hal yang biasa dan wajar, karena itu merupakan suatu bentuk komunikasi lain dan rasa bentuk kasih sayang yang lain. (Tsaaahh). Walaupun begitu tanpa disadari saya mulai menyayangi adik saya yang satu-satunya ini, apalagi semenjak saya di SMA dan mulai sibuk dengan sekolah serta organisasi yang saya ikuti di sekolah yang otomatis cukup menguras waktu saya di luar, sehingga sering pulang sore dan waktu luang di rumah pun saya gunakan untuk bercengkrama bersama tugas-tugas sekolah dengan mengurung diri di kamar pada malam hari dan interaksi dengan adik saya pun berkurang. Lama kelamaan saya mulai merindukan interaksi dengannya walaupun dalam bentuk “pertengkaran”. Mungkin karena saya sudah sedikit dewasa pada saat itu, saya pun mulai mengurangi sikap egois saya sebagai seorang kakak dan mulai mencair padanya. Saya sudah tidak segan untuk bercerita tentang sekolah saya ataupun kejadian-kejadian yang saya alami di sekolah pada adik saya itu. Karena salah satu kelebihannya yang saya acungi jempol adalah amanahnya ia dalam menjaga rahasia. Terbukti ia tidak pernah bocor menceritakan apa yang sampaikan pada orang-orang di rumah sekalipun. Dan itu yang membuat saya nyaman bercerita kepadanya walaupun pada saat itu ia masih kelas 5/6 SD dan mungkin ada beberapa hal yang ia tidak mengerti, yang penting saya cukup puas meceritakan keluh kesah, ia selalu siap kuping untuk menjadi pendengar setia. Ternyata ia memang adik yang baik. Dan kami pun mulai akur, malah setiap ada yang tiba ulang tahunnya tak segan-segan saling memberikan kado, sampai sekarang pun kebiasaan itu masih terjaga, sehingga ketika ada salah satu yang terlambat memberikan kado nya siap-siap saja ada yang terus menagih nantinya. Hehe.
Ada beberapa hal lain yang membuat saya semakin sayang padanya. Ia anak yang rajin membantu mamah tanpa harus di suruh, ia salah satu cucu kesayangan nenek dan alm.kakek karena tangannya yang sering memberikan pijitan terbaik ketika nenek dan kakek dalam keadaan lelah. Dan harus saya akui dia anak yang cantik dan manis :). Walaupun secara garis wajah dia paling beda sendiri dari ketiga kakaknya, bentuk wajah yang gak ada mirip-miripnya dengan mamah bapak maupun kakak-kakaknya. Hehe. Kadang-kadang kami sebagai kakak usil mencandainya dengan menyebutnya dia bukan anak mamah bapak karena tidak mirip dengan siapa-siapa, tentunya kami tertawa-tawa dan berhasil mem-bully dan membuat dia memanyun-manyunkan bibirnya beberapa centi ke depan. Haha. Adik bungsu kami ini memang lucu sekali.
Hingga tibalah saatnya saya meninggalkan rumah untuk menimba ilmu di Bandung di Universitas Pendidika Indonesia pada tahun 2009 dan bertepatan dengan ia masuk SMP. Ternyata ia lebih memilih untuk melanjutkan sekolah menengahnya di Madrasah Tsanawiyah (MTs) swasta di dekat rumah, tidak mengikuti jejak saya yang sekolah di SMP negeri. Ya itu lah pilihannya sendiri, insyaAllah yang terbaik. Dan hari-hari pun saya lalui jauh dari keluarga dan tentunya jauh juga dari adik saya. Entah kenapa semenjak saya masuk kuliah, rasa sayang saya terhadapnya semakin bertambah dan bertambah, tidak lagi tersisa rasa benci atau pun tidak suka sedikitpun padanya. Saya sadar saya punya adik manis yang harus saya arahkan, karena saya mulai menyadari tugas saya sebagai kakak yang harus memberikan suri tauladan yang baik padanya. Dan disinipun saya seolah-olah menjadi seorang adik yang diperlakukan istimewa oleh kakak-kakak di kostan maupun di kampus. Dari sana saya bertekad untuk menjadi kakak yang baik juga untuk adik saya di rumah. Dia menjadi salah satu yang saya kangeni ketika datang ke rumah, dan saya pun tak canggung bercerita mengenai kehidupan saya di kampus padanya, dan ia dengan setia seperti dulu mendengarkan saya bercerita. Kali ini pun saya tidak ingin kalah, walaupun ia sedikit pendiam tapi saya mencoba menanyakan keadaannya di sekolah. Alhamdulillah ia pun sedikit banyaknya mulai bercerita mulai dari sekolah, organisasi sampai hal pribadi semisal ada pria yang mulai memberikan perhatian lebih padanya. Hey pria, jangan ganggu dan jangan membuat adikku kesal ya!!
Sepertinya ia pun mulai nyaman denganku dan mulai mengikuti apa yang saya pakai dan sukai. Biasanya naluri seorang adik memang begitu, melihat kakaknya dan mencoba jadi follower nya. (Ge-eR) hehe. Tapi serius, salah satu nya bisa dilihat dari mulai perubahannya berbusana yang ingin menyamakan dengan apa yang saya pakai dan menyukai apa yang saya suka (contoh warna dll). Ia yang kala itu masih SMP harus mulai merayu mamah untuk membelikannya rok, gamis dan khimar (kerudung) yang bisa dibilang cukup panjang di kalangannya karena melihat kakaknya yang sudah melakukannya. Mamah yang kala itu masih menganggap adik ku itu masih kecil kurang setuju kalau sudah harus mengenakan rok dan gamis, karena pikir beliau kurang modis untuk anak seusianya dan saya pun kena cipratan mamah karena menyalahkan saya sebagai biang keladinya, “Tuh, gara-gara teteh, jadinya adek ikut-ikutan pakai rok. Kurang modis untuk seusia dia.”. Saya hanya bisa senyum dan mesem-mesem dan mencoba meyakinkan mamah bahwa adik tetap cantik dengan berbusana seperti itu. Dan alhamdulillah lama kelamaan mamah pun mengerti dan malah sekarang sering menyuruh kami membeli pakaian yang samaan ketika lebaran tiba. Rupanya mamah pun tidak mau kalah dengan anak-anaknya, beliau juga mulai memperbanyak koleksi gamis dan roknya. “Virus” akhirnya berhasil saya sebarkan di rumah, bahkan nenekpun terkena. Sampai-sampai setiap saya memakai khimar panjang yang baru setiap pulang ke rumah, nenek tak mau kalah ingin mempunyai yang serupa dengan warna yang berbeda. Ah, bahagianya hidup ini ketika bisa  menyebarkan kebaikan di rumah sendiri.
Ini salah satu baju kami yang sengaja disamakan ^_^
Dan adik saya pun makin mantap dengan apa yang dikenakannya, walaupun terkadang masih suka komentar bahwa khimar saya kepanjangan. Hehe. Tapi saya mencoba meyakinkan bahwa saya nyaman dan berharap ia pun bisa memanjangkan khimarnya sedikit demi sedikit, kembali ia hanya tersenyum. Tapi saya yakin ada keinginan besar di matanya dan waktu yang akan menjawab.
kompak...^_^
Ada beberapa kekurangan adik saya yang sebenarnya masih bisa diperbaiki. Diantaranya ia kurang terbuka terhadap permasalahan yang ia punya, terkadang dipendam sendiri. Memang sih tidak semua masalah harus diceritakan kepada orang lain, akan tetapi memang ada saatnya ia harus menceritakan sedikit permasalahannya kepada keluarga ataupun kakak sendiri. Kemudian ia juga kurang percaya terhadap dirinya sendiri dan cenderung minder,  padahal banyak kelebihan yang bisa ia eksplor untuk menjadi lebih baik. Terlalu fokus terhadap kekurangan diri terkadang juga tidak bagus dik.
Ah, apapun kekurangannya yang pasti semakin hari saya semakin sayang dan cinta pada adik saya. Beruntung dianugerahi adik sepertinya. Saya ingin menjadi sosok “kakak” yang sebenarnya. Ingin yang terbaik untuknya. Saya ingin ia lebih baik dari kakaknya dari segi apapun. Segala kelebihan kakaknya bisa ia ambil dan segala kekurangan kakaknya bisa ia jadikan pelajaran agar ia tak mengulang kesalahan yang sama.
Dengan penuh kesadaran, saya ingin mengucapkan sesuatu kepada adik saya, “Uhibbuki fillah.. Teteh sayang cici karena Allah :’) ”
Gerlong, 19 Maret 2013 dinihari jam 01:25

#Part 1 : Seorang Kakak yang mencoba menjadi sosok -KAKAK-..:’)


Kehendak Allah SWT untuk menganugerahi saya seorang adik yang sebenarnya (dulu) kehadirannya tidak saya kehendaki (heu :D), pasalnya ketika saya pada saat itu berusia kurang lebih menuju 6 tahun mempunyai ambisi ingin menjadi bungsu di keluarga ini..hehe. Ya, namanya masih kecil lah ya, sampai-sampai ketika tiba mamah melahirkan adik saya yang satu ini pada tanggal 03 Januari 1997, saya hanya menangis di sudut rumah dan enggan melihat sosok adik bayi yang kata orang-orang lucu, *apanya yang lucu coba, yang ada kalau ada bayi itu rumah jadi berisik karena tangisannya.-_-‘ (pikir saya saat itu). Saya begitu kesal melihat keluarga dan orang-orang yang datang memperlihatkan mimik muka dan ekspresi yang bahagia menyambut kedatangan mamah dari rumah sakit menggendong bayi itu. Seolah mereka tidak merasakan penderitaan dan kegundahan saya saat itu (halah). Mamah pun menghampiri saya yang masih sesenggukan di sudut rumah dan mencoba untuk memperkenalkan bayi yang baru saja dilahirkannya.
“Is, ini adik baru ais. Di cium atuh.” Mamah tersenyum sambil memegang kepalaku.
Huueek, boro-boro ingin nyium deh. Melihat wajahnya saja gak mau.
Dan saya hanya geleng-geleng kepala dan memalingkan muka sambil terus berderaian air mata.
Terbayang lah sudah dalam benak seorang saya yang masih ‘lugu’ kala itu, kalau pehatian mamah dan keluarga yang lainnya pada saya bakalan berkurang. Hari-hari pun akan serasa berat untuk saya kala itu. Apalagi kehadirannya yang tidak saya harapkan.
            Dan ketika dia mulai tumbuh menjadi balita, semakin bertambah rasa ketidaksukaan saya padanya. Pasalnya ketika saya ingin pergi main ke rumah teman sebaya, dia selalu ‘nguntil’ dari belakang dan mengikuti saya sampai rumah teman. Dan saya pun marah pada saat itu karena tidak suka diikuti olehnya, alhasil dia menangis dan mulai mengadu pada mamah. Huh, dasar cengeng. Dan saya pun kena cipratan marahnya mamah..
“Teteh kenapa sih gak mau ngajak main adik nya? Da gak minta di gendong ini. Lagipula tuh lihat temen-temen sebaya teteh mah main teh sama adiknya di rumah.”
Saya hanya bisa tertunduk dan semakin bertambah ketidaksukaan pada adik saya itu. Gara-gara dia saya jadi sering kena marah. Murka saya pada saat itu.
“Teh, da gak akan malu atuh bawa main adik se- lucu ini.”
Haaah, what’s?? Lucu?? Di mataku sosoknya tidak lebih dari sosok adik menyebalkan yang selalu ingin ikut kakaknya kemanapun pergi. Fyuuhh.
Tapi ada satu kejadian lucu yang kalau diingat suka senyum dan malu sendiri. Jadi waktu itu saya kelas 2 atau kelas 3 SD gitu ya (lupa), ketika bulan ramadhan tiba saat itu saya sudah mulai belajar ikut berpuasa dan memang sudah dibiasakan oleh orangtua sejak saya masuk SD. Dan di suatu siang yang bolong, datanglah tamu berkunjung ke rumah dengan membawa buah tangan yang tak lain untuk dimakan ketika buka puasa nanti. Saya yang tidak kuat menahan godaan melihat makanan yang sangat menggiurkan tersebut (padahal kue biasa sih), mempunyai akal licik pada saat itu untuk memanfaatkan adik saya yang masih kecil dan belum berpuasa untuk melancarkan aksi bulus itu (astaghfirullah..-_-). Karena adik saya terbilang cukup takut pada saya karena masih galak padanya saat itu jadi mudah untuk menyuruhnya. Ia pun dengan sukarela menuruti apa yang saya katakan padanya untuk mengambil makanan itu dan memberikan sebagiannya pada saya dengan catatan dia harus tetap tutup mulut. Dan saya pun dengan entengnya dan tanpa beban memakan kue tersebut dengan lahap di tempat yang saya kira sudah aman. Dan tahu apa yang terjadi berikutnya? Kakak perempuan saya ternyata memperhatikan saya dari sejak lama, dan ketika mata kami saling bertemu, saya kaget bukan main, saat itu dunia serasa runtuh, maluuuu sekali seakan-akan saya sudah berbuat dosa sebesar gunung. Saya pun mencoba merayu kakak untuk tidak mengadu kepada mamah dengan merengek. Ia hanya tersenyum sinis dan bisa saya tebak, ia melaporkan kelakuan saya kala itu kepada mamah. Bukannya marah, mamah hanya tertawa mendengar penjelasan dari kakak, dan alhasil kelakuan bodoh saya kala itu menjadi obrolan hangat dan selalu diceritakan kepada kerabat/keluarga yang datang ke rumah membuat saya malu setengah mati. Saat itu saya tidak suka dengan kakak perempuan saya yang satu itu.
Waktu terus berlalu, tibalah saat dimana adikku ini masuk sekolah dasar. Kala itu ketidaksukaan ku padanya mulai berkurang walaupun masih menyisakan sedikit rasa. Saya masih bersyukur pada waktu dia masuk SD bertepatan dengan saya masuk SMP. Jadi aman pikirku saat itu tidak perlu repot-repot jagain adik dan tidak harus bareng berangkat ke sekolah nya karena memang kami berbeda jurusan (haha, jahatnya). Ada suatu kejadian menyebalkan yang saya ingat ketika dia sudah masuk SD adalah ketika saya sudah berbaik hati ingin membantunya dalam belajar dan mengerjakan tugas rumahnya karena ia terlihat sudah berputus asa dalam mengerjakannya, sampai ia pun menangis karena tidak bisa mengerjakan tugas rumahnya itu, dan saya pun dengan sadar diri (sebenarnya rada dipaksa sama nenek dan mamah) ingin membantunya, tapi ia sambil tetap menangis dan dengan sombongnya berkata: “Gak mau dibantuin, teteh mah da gak akan bisa!!”. Haah, ni anak pengen dijitak apa ya. Murka saya pada saat itu. Gue udah SMP, nah elu? Masih SD juga udah belagu (kesal tingkat kabupaten). Akhirnya saya tinggalkan ia sendiri di ruangannya dengan hati yang gondok. Fyuuh.

                                          ******* To be continued *******

Oia, di bawah ini kira-kira beginilah ekspresi kami saat sedang tidak akur. (aslinya lebih seram dari ini sepertinya. haha :D )
-aish.photoscollection-

Ka-Ka-eN, apaan tuuuh?





Ka-Ka-eN yang di maksud disini bukan Korupsi, Kolusi, Nepotisme yaa. Tapi Kuliah, Kerja, Nyata. Ini merupakan salah satu mata kuliah wajib mahasiswa S1 di UPI baik itu untuk mahasiswa pendidikan maupun non-pendidikan (murni). Istilah ini bisa berbeda di setiap kampus, ada yang namanya kerja lapangan, KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa), pengabdian dsb. Ya inti nya mah kuliah di lapangan atau di lingkungan masyarakat lah. Semacam pengabdian pada masyarakat kayak gitu pokoknya. Kalau di UPI sendiri biasanya KKN ini  di kontrak pada semester 6, pelaksanaannya di akhir semester 6 kurang lebih selama 40 hari kami diwajibkan untuk mengabdi di suatu daerah. Daerahnya sendiri ada list-nya dari pihak universitas nya. Pada tahun ini (2012) daerah yang dijadikan target program KKN ini kurang lebih ada 6 daerah tersebar di daerah jawa barat. Daerah tersebut diantaranya kota Bandung, kabupaten Bandung, Garut, Subang, Purwakarta, Indramayu. Program yang ditawarkan pun beragam, kurang lebih ada sekitar 7 jenis program. Nah, untuk programnya sendiri disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing. Jenis dari programnya itu sendiri diantaranya ada POSDAYA (Pos Pemberdayaan Keluarga), MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), LH (Lingkungan Hidup), Kearifan Budaya Lokal (KBL), PAUD, KF (Keaksaraan Fungsional) dan juga Wajar Dikdas (Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun). Untuk ke enam program tersebut tentu ada kekurangan dan kelebihan masing-masing, tapi menurut hasil survey, program yang paling difavoritkan oleh mahasiswa UPI adalah POSDAYA. Banyak faktor yang menyebabkan kenapa program POSDAYA ini di favorit-i oleh mahasiswa/i. Yang pasti apapun programnya, kami punya misi tersendiri untuk menyukseskan program-program tersebut yang notabene merupakan amanah dari universitas dan jangan  mentang-mentang tidak di awasi 24 jam oleh universitas kami dengan begitu entengnya bermain-main dengan program ini karena yang jadi taruhannya adalah nama almamater kami sendiri, ya secara otomatis kami harus membawa nama baik universitas di lingkungan masyarakat tempat kami nanti KKN. Ya, kalau di bilang cukup berat juga, tapi jika dijalankannya dengan enjoy dan tentunya profesionalitas yang cukup tinggi serta didukung oleh kesolidan kelompok insyaAllah akan berjalan mudah dan lancar.
Nah, berbicara masalah kelompok, sebenarnya bisa dibilang seperti membeli kucing dalam karung, karena biasanya kami tidak tahu akan satu kelompok dengan siapa. Wong satu kelompok itu harus terdiri dari berbagai macam jurusan di UPI dari tiap fakultas yang berbeda dan tentunya mempunyai tabiat dan watak yang berbeda-beda pula. Masalah kelompok ini salah satu masalah yang cukup membuat sebagian mahasiswa menjadi galau, karena setiap orang pasti ingin satu kelompok dengan orang yang nantinya bisa enak di ajak kerjasama. Bayangin sendiri lah ya, kami harus hidup bersama dengan orang yang belum kami kenal sebelumnya. Ya tentunya setiap orang itu berbeda, nah tugas pertama kami sebenarnya adalah bagaimana kami bisa mengemas perbedaan-perbedaan itu menjadi sebuah kekuatan untuk mencapai visi dan misi bersama (ceileee..:D).
Yang harus dipersiapkan untuk KKN ini ruhiyah, mental, dan juga fisik. Pertama Ruhiyah, jelas ini yang utama karena sesuai fakta di lapangan kita bakal menemui sesuatu yang mungkin bakal di luar dugaan, seperti salah satunya bakal menemui orang yang di KTP nya Islam tapi pada kenyataannya tidak pernah terlihat sholat dan ibadah-ibadah wajib yang lainnya. Nah, sebagai muslim yang baik ketika melihat hal seperti itu tentu kewajiban kita sebagai sesama saudara muslim untuk mengingatkan, untuk hasilnya serahkan saja pada Allah, kita hanya bertugas untuk mengingatkan saja. Dan jangan salah jika lingkungan kita mayoritas seperti itu, bisa jadi malah kita yang terbawa mereka. Naudzubillah ya. Nah, itulah pentingnya menjaga ruhiyah sebelum dan saat KKN. Salah satu godaan ketika di KKN itu adalah ketika kita berkumpul dengan teman-teman KKN (baik itu membicarakan program ataupun ngobrol-ngobrol ringan) dan kemudian  terdengar suara adzan, disanalah kita diuji apakah kita akan bersegera untuk melaksanakan sholat atau terbawa mereka yang biasa melalaikan sholat. Ya sebisa mungkin kita ‘cut’ dulu untuk bersegera melaksanakan shalat serta mengajak yang lainnya untuk shalat juga. Pada awalnya memang akan terasa canggung tapi jika kita mencoba mengajak mereka dengan bahasa-bahasa yang tentunya bisa mereka terima insyaAllah tidak akan terlalu sulit, hanya saja kita harus tetap bersabar dan istiqamah dalam mengingatkan kebaikan.
Yang kedua, Mental. Tentu saja mental yang kuat harus kita milliki, karena di lapangan nanti kita bakal menemui berbagai macam karakter. Ada yang tenang, pemarah, cuek, tidak mau ambil pusing, bijaksana, keras kepala, sampai perfeksionis juga ada. Nah, biasanya konflik itu timbul dari mulai hal-hal terkecil sampai yang terbesar. Contohnya bagi orang yang tipenya itu teratur, segala sesuatunya itu harus jelas dan terperinci, nah berbeda dengan orang yang bebas, mereka cenderung tidak biasa dengan keteraturan karena biasanya hidup mereka ‘let it flow’ biarkan mengalir apa adanya. Kedua tipe ini jika disatukan akan menimbulkan suatu konflik jika tidak bisa ditanggulangi. Disanalah tugas kita untuk menanggulangi perbedaan-perbedaan tersebut.
Yang ketiga, Fisik. Jelas ini merupakan hal yang tidak boleh dilupakan juga karena biasanya KKN ini banyak sekali program-program yang ditujukan untuk masyarakat di lingkungan sekitar. Dan dengan padatnya pelaksanaan program-program itu dituntut untuk mempunyai stamina yang oke serta fisik yang kuat. Karena kalau fisik kita lemah, alhasil akan terbengkalai program-program yang telah disusun sedemikian rupa dan jadinya malah menyusahkan teman-teman satu kelompoknya.
Intinya buat KKN menjadi salah satu ladang kita untuk beramal ibadah dan mendewasakan diri. Jangan dijadikan beban. Jadilah orang yang bermanfaat di sana. Ambil bagianmuu..!!! J
Nah, tulisan saya di atas semoga bermanfaat bagi temen-temen/adik-adik yang mau melaksanakan Ka-Ka-aN nya yooooo... Cumungudh kawan!! :D

Jalan Cinta Para Pejuang

"Di jalan cinta para pejuang, sejak awal kita mengikrarkan bahwa kita semua milik Allah, dan hanya padaNya kita akan kembali. Maka dengan sahabat yang paling dekat, dengan istri yang paling setia, atau anak-anak yang berbakti, hubungan kita bukanlah hubungan saling memiliki. Allah hanya meminjamkan dia untuk kita dan meminjamkan kita untuknya. Itu saja. Sudah begitu besar karunia Allah bahwa kita ditakdirkan bersama. Atau pernah bersama. Bersama di jalan cinta para pejuang.."
(Salim A Fillah)

Senin, 14 Januari 2013

[FLASH BACK] PERJALANAN BERLAYAR DI “KAPAL UKDM”

Foto Pengurus LDK UKDM UPI 2012 [sebagian]


Hari ini jadikan lebih baik dari hari kemarin, berusahalah..
Hari esok jadikan lebih baik dai hari sekarang, sesunggguhnya..
-Shaffix: Kemarin sekarang dan esok-
Sesungguhnya tak pernah ada yang saya sesali dari setiap perjalanan hidup saya. Disana pasti selalu ada pelajaran dan hikmah yang bisa saya ambil. Mengenal LDK UKDM UPI, mengenal HUMAS, mengenal para Pengurus Harian, mengenal FSLDK, mengenal seluruh pengurus di UKDM. Hal yang tak akan pernah saya lupakan dan menjadi kenang-kenangan terindah yang saya alami, dan mungkin nanti akan menjadi cerita untuk anak cucu saya kelak, mungkin saya akan bilang seperti ini “betapa bahagia tiada tara ketika ibu mengenal dakwah ini, dari UKDM ini”.
Awal mula yang tidak disangka ketika saya yang pertama kali ikut pengkaderan salah satu UKM keislaman di Universitas Pendidikan Indonesia. Namanya LDK UKDM UPI. Kepanjangan dari Lembaga Dakwah Kampus Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa. Yang pada saat saya masih menjadi mahasiswa baru dan bingung untuk memilih UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang akan diikuti, salah seorang teman saya mengajak untuk mengikuti acara pengkaderan UKDM ini. Awalnya saya tidak berminat dan tidak ada sedikitpun feel untuk bergabung di UKDM ini, karena pada saat itu sedang gencar-gencarnya aliran sesat di kalangan kampus dan membuat saya sedikit parno dengan kegiatan yang berbau keislaman, meskipun memang waktu SMA saya berkecimpung dalam suatu wadah yang bernama ROHIS. Tapi Allah SWT telah menakdirkan yang lain, saya diberi kesempatan untuk mengikuti awal perjalanan ini walaupun awalnya memang dengan rasa keterpaksaan. Mungkin ini bisa dibilang sebagai batu loncatan pertama saya di dakwah kampus. Dan waktupun berjalan, karena setelah beberapa bulan pasca pengkaderan itu saya masih belum merasakan feel itu, dan merasa belum bisa menjadi bagian dari anggota UKDM saya sempat berpikir untuk mundur saja, tapi Allah berkehendak lain. Saya masih dirangkul oleh teteh-teteh dan teman-teman yang luarbiasa menyemangati untuk tetap bertahan. Sedikit demi sedikit saya mulai merasa ada kenyamanan dan ingin mencoba untuk meneruskan aktif di wajihah ini.
Setiap acara dan kajian yang diadakan saya coba ikuti. Tapi di tengah perjalanan, justru teman saya yang pertama semangat mengajak ke UKDM malah mundur tiba-tiba. Pada saat itu saya sempat merasa sendirian, karena biasanya saya bareng dengan teman saya itu jika datang ke acara-acara UKDM. Lagi-lagi tangan Allah SWT mengatur segalanya, rupanya IA masih tetap menginginkan saya bertahan di UKDM ini walaupun sempat merasa sendiri. Saya mencoba menghibur diri sendiri ketika perasaan sendirian itu hinggap dengan mencoba bergabung dengan yang lainnya. Dengan susah payah, saya mencoba untuk ‘membetahkan’ diri disini. Karena hakikatnya ketika bergabung dengan teteh-teteh dan teman-teman yang ruhiyahnya luarbiasa serasa ada embun pagi yang menyejukkan hati ini dan merasa terus ingin memperbaiki diri. Perasaan itu tidak saya dapatkan ditempat lain. Mulailah saya merasa bahwa UKDM adalah rumah kedua saya.
Tibalah saatnya saya ikut bergabung di kepengurusan UKDM tahun 2010. Pada saat itu saya bingung mau berkarya di departemen mana. Awalnya saya terpikir untuk meneruskan perjuangan saya sewaktu di Rohis SMA sebagai ketua keputrian yang merasa belum maksimal dengan masuk di departemen kemuslimahan, akan tetapi saya berpikir ingin mencari potensi saya di bidang yang lain. Dan terpikirlah untuk memilih departemen HUMAS. Entah kenapa nama itu yang akhirnya menjadi pilihan saya, karena di awal saya pikir bahwa pekerjaan dari departemen ini menjalin hubungan dengan orang lain dan keluar, dan pada saat itu saya memang ingin belajar bersosial lebih baik maka departemen ini menurut saya pilihan yang cukup tepat. Bismillah, akhirnya saya memantapkan hati memilih departemen HUMAS yang pada saat itu dipimpin oleh seorang ikhwan kakak tingkat yang satu jurusan dengan saya. Pada awalnya departemen ini berjalan cukup optimal, namun di tengah perjalanan entah kenapa ketua departemen kami menghilang begitu saja. Dan kami pun seperti anak yang kehilangan induknya. Tapi justru keadaan itulah yang membuat kami “Laskar HUMAS” (begitulah sebutannya) menjadi semakin kompak dan ukhuwah pun semakin erat untuk menunjukkan bahwa kami adalah orang-orang kuat. Dan ada seorang kakak akhwat yang selalu menjadi tempat mencurahkan segala keluh kesah kami. Dan melalui kakak itu saya mulai mengenal FSLDK. Pengalaman tahun pertama sebagai pengurus yang cukup berkesan untuk saya. Satu pelajaran yang saya dapatkan dari sini adalah ukhuwah mampu menyelesaikan segala kondisi sekalipun itu hal terburuk.
Tahun kedua kepengurusan yang sempat membuat saya goyah akan melanjutkan di departemen HUMAS atau pindah ke departemen yang lain. Lagi-lagi Allah SWT menguji saya lewat teman-teman seperjuangan di departemen HUMAS yang tidak lanjut di kepengurusan UKDM 2011. Allah SWT menguji saya berpisah dengan teman-teman yang memilih berkarya di tempat lain. MasyaAllah, betapa sedihnya saya saat itu saat mengetahui kenyataan, di saat saya sedang merasakan indahnya ukhuwah di departemen ini dan di UKDM tentunya. Tapi rupanya Allah SWT menakdirkan saya untuk tetap bertahan di departemen ini, untuk meneruskan perjuangan di sini. Memperbaiki yang kurang di kepengurusan tahun lalu. Allah SWT menakdirkan saya untuk menjadi seorang Kabid Jaringan, yang saya pikir saat itu saya belum pantas karena masih ada kakak tingkat yang lebih berkafa’ah. Tapi lewat jalan inilah saya dituntut mulai berpikir lebih jauh ke depan memikirkan bagaimana caranya saya bisa menjadi salah satu orang yang bisa berkontribusi di jalan dakwah ini. Dan amanah itu pun saya terima dengan penuh rasa pengharapan kepada Allah agar bisa menguatkan pundak ini. Di tahun kedua ini saya harus membimbing adik tingkat yang baru masuk kepengurusan dan tentunya harus menjadi teladan untuk mereka. Tekad saya adalah membuat UKDM khususnya departemen HUMAS dan lebih khususnya bidang jaringan menjadi rumah yang nyaman bagi mereka. Saya harus bisa bertindak sebagai kakak dan sahabat mereka sekaligus. Saya tidak ingin mereka mengalami hal seperti yang saya alami ketika harus ditinggalkan teman-teman seperjuangan saya. Saya pun harus berpikir keras untuk bisa membagi fokus saya di BEM jurusan juga yang pada saat yang sama pun saya diamanahkan menjadi sekretaris departemen. Perjuangan dakwah di tahun kedua di UKDM ini saya rasa lebih berat dibandingkan dengan tahun sebelumnya karena saya dituntut untuk bisa tawazun dengan amanah saya di UKDM maupun BEM jurusan dan juga sebagai staf sekum di program tutorial.
Tahun ketiga kepengurusan, selalu saja ada hal yang membuat saya berpikir ulang untuk melanjutkan perjuangan atau tidak di UKDM ini. Kali ini bukan menyangkut dengan mundurnya kader, justru adik-adik yang pada periode sebelumnya terjun di kepengurusan UKDM, pada periode kepengurusan tahun 2012 alhamdulillah sebagian besar melanjutkan. Tapi permasalahan kali ini menyangkut akademik saya yang saya rasa terus menurun. Memang saya tidak bisa menyalahkan seutuhnya pada kegiatan organisasi yang cukup menyita waktu dan tenaga. Mungkin dari diri saya sendiri yang belum bisa menerapkan konsep tawazun yang harusnya ada pada seorang kader dakwah. Ya, saya akui itulah salah satu kekurangan saya. Dan sempat terpikir untuk mundur saja dari UKDM dan fokus di perkuliahan, toh masuk ke UPI ini pada awalnya juga untuk menjalankan amanah dari orang tua yakni kuliah. Tapi rupanya saya terlalu picik jika berpikiran sempit seperti itu, saya melihat kader dakwah lain yang bisa tawazun di kuliah maupun organisasi, buktinya bisa berprestasi di keduanya tanpa meninggalkan salah satunya bahkan bisa menjadi mahasiswa berprestasi tingkat universitas dan berprestasi juga di skala nasional. Dari sanalah saya berkaca, orang lain saja bisa kenapa saya tidak! Dan ada orang-orang di belakang saya yang terus memberikan support dan penguatan, merekalah keluarga, murabbi, saudara-saudara seperjuangan, adik-adik dan yang lainnya. Saya pun teringat janji Allah SWT dalam ayat-ayat cintaNYA surat Muhammad ayat 7 yang artinya: “Jika engkau menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. Ayat cinta yang menjadi penyejuk di kala kegundahan itu melanda. Saya yakin dengan membela agama Allah SWT di jalan dakwah ini salah satu bentuk untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT. Dan tawaran dari Ketua Umum LDK UKDM 2012 kepada saya untuk bersama-sama berjuang dijalanNYA menjadi Ketua Departemen HUMAS LDK UKDM 2012 saya terima dengan tetap mengharap ridho Allah SWT dan hanya berharap mempunyai pundak yang kuat untuk menanggung segala amanah ini. Karena sesungguhnya amanah ini datangnya dari Allah SWT, maka saya hanya mengahrap pertolongan dariNYA saja. Sungguh Allah SWT itu maha benar, untuk menaikkan derajat seorang hambaNYA maka ia pun menaikkan tingkat ujiannya. Tugas  seorang pemimpin departemen untuk memberikan pengarahan, bimbingan, dan penguatan untuk adik-adik dan rekan-rekan saya di departemen HUMAS pada awalnya membuat saya ragu apakah bisa melaksanakan kewajiban itu. Tapi, lagi-lagi Allah SWT mengirimkan orang-orang luar biasa di departemen HUMAS yang membuat saya bisa bertahan disini, merekalah HUMAS Family yang saya sayangi mereka karena Allah SWT. Juga saudara-saudara di Pengurus Harian yang senantiasa saling menyemangati untuk menjalankan segala amanah di departemen masing-masing dengan maksimal. Mereka anugerah yang Allah SWT kirimkan untuk saya. Tidak cukup sampai disana, Allah SWT menguji saya dengan memberikan amanah sebagai koordinator BPDa (badan pekerja puskomda) yang berada di ranah FSLDK. Yang saya pikir kapasitas saya sebagai seorang akhwat yang mempunyai keterbatasan gerak dibandingkan ikhwan cukup tidak mendukung, tapi itulah hasil terbaik syuro yang harus saya jalankan. Lagi-lagi saya dimudahkan oleh Allah SWT untuk menjalankan amanah ini dengan berbagai caraNYA. Orang-orang luarbiasa Allah SWT kembali kirimkan untuk menemani, dan amanah sebagai BPDa pun kami jalankan dengan semaksimal mungkin dan pada akhirnya mengantarkan LDK UKDM UPI menjadi PUSKOMDA Bandung Raya 2013-2014. Amanah baru dan sejarah pertama bagi LDK UKDM menjadi PUSKOMDA Bandung Raya. Kami yakin, Allah SWT mempunyai rencana di balik semua ini. Tidak ada yang kebetulan. Allah SWT tahu yang terbaik untuk keberjalanan dakwah khususnya di kampus UPI umumnya di Bandung Raya. Amanah itu bukan sesuatu yang pantas di minta, akan tetapi jika amanah datang menghampiri tidak ada kata untuk menghindar dan mengabaikannya.
Allah SWT pun rupanya masih ingin “menjaga” saya dengan mengamanahkan koordinator jaringan muslimah Bandung Raya 2013 di pundak saya. Dan lagi-lagi do’a yang bisa saya panjatkan padaNYA adalah semoga saya diberikan pundak yang kuat untuk menanggung amanah ini dan dapat menjalankannya semaksimal mungkin. Dan saya berharap bisa menjadi salah satu orang yang menorehkan tinta emas di sejarah baru LDK UKDM ini. Semua ini semata-mata untuk Allah, untuk Islam, untuk dakwah yang kucinta...Lillah..:’)
Bandung, 14 Januari 2013

Wilujeng Sumping..^^

Ahlan Wasahlan..Wilujeng Sumping..Selamat datang..Welcome..Annyeong haseo..Hajimemashite..
(apapun bahasanya)..
di Blog saya, seorang muslimah yang senantiasa ingin selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian. Baik itu hikmah yang ada di langit maupun di bumi..
Dan sebagai manusia saya merasa mempunyai tugas untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran.

Yang baik dari blog ini silahkan di ambil, yang kurang baiknya abaikan saja.
#jangan lupa kalau dijadikan sebagai referensi, cantumkan juga sumbernya ya saudara/i ku..:)
Hope all of you enjoy my blog..\^^/