Kehendak
Allah SWT untuk menganugerahi saya seorang adik yang sebenarnya (dulu) kehadirannya
tidak saya kehendaki (heu :D), pasalnya ketika saya pada saat itu berusia
kurang lebih menuju 6 tahun mempunyai ambisi ingin menjadi bungsu di keluarga
ini..hehe. Ya, namanya masih kecil lah ya, sampai-sampai ketika tiba mamah
melahirkan adik saya yang satu ini pada tanggal 03 Januari 1997, saya hanya
menangis di sudut rumah dan enggan melihat sosok adik bayi yang kata
orang-orang lucu, *apanya yang lucu coba, yang ada kalau ada bayi itu rumah jadi
berisik karena tangisannya.-_-‘ (pikir saya saat itu). Saya begitu kesal
melihat keluarga dan orang-orang yang datang memperlihatkan mimik muka dan
ekspresi yang bahagia menyambut kedatangan mamah dari rumah sakit menggendong
bayi itu. Seolah mereka tidak merasakan penderitaan dan kegundahan saya saat
itu (halah). Mamah pun menghampiri saya yang masih sesenggukan di sudut rumah
dan mencoba untuk memperkenalkan bayi yang baru saja dilahirkannya.
“Is, ini adik baru ais.
Di cium atuh.” Mamah tersenyum sambil memegang
kepalaku.
Huueek,
boro-boro ingin nyium deh. Melihat wajahnya saja gak mau.
Dan
saya hanya geleng-geleng kepala dan memalingkan muka sambil terus berderaian
air mata.
Terbayang
lah sudah dalam benak seorang saya yang masih ‘lugu’ kala itu, kalau pehatian
mamah dan keluarga yang lainnya pada saya bakalan berkurang. Hari-hari pun akan
serasa berat untuk saya kala itu. Apalagi kehadirannya yang tidak saya harapkan.
Dan ketika dia mulai tumbuh menjadi
balita, semakin bertambah rasa ketidaksukaan saya padanya. Pasalnya ketika saya
ingin pergi main ke rumah teman sebaya, dia selalu ‘nguntil’ dari belakang dan
mengikuti saya sampai rumah teman. Dan saya pun marah pada saat itu karena
tidak suka diikuti olehnya, alhasil dia menangis dan mulai mengadu pada mamah.
Huh, dasar cengeng. Dan saya pun kena cipratan marahnya mamah..
“Teteh kenapa sih gak
mau ngajak main adik nya? Da gak minta di gendong ini. Lagipula tuh lihat
temen-temen sebaya teteh mah main teh sama adiknya di rumah.”
Saya
hanya bisa tertunduk dan semakin bertambah ketidaksukaan pada adik saya itu.
Gara-gara dia saya jadi sering kena marah. Murka saya pada saat itu.
“Teh, da gak akan malu
atuh bawa main adik se- lucu ini.”
Haaah,
what’s?? Lucu?? Di mataku sosoknya tidak lebih dari sosok adik menyebalkan yang
selalu ingin ikut kakaknya kemanapun pergi. Fyuuhh.
Tapi
ada satu kejadian lucu yang kalau diingat suka senyum dan malu sendiri. Jadi
waktu itu saya kelas 2 atau kelas 3 SD gitu ya (lupa), ketika bulan ramadhan
tiba saat itu saya sudah mulai belajar ikut berpuasa dan memang sudah
dibiasakan oleh orangtua sejak saya masuk SD. Dan di suatu siang yang bolong,
datanglah tamu berkunjung ke rumah dengan membawa buah tangan yang tak lain
untuk dimakan ketika buka puasa nanti. Saya yang tidak kuat menahan godaan
melihat makanan yang sangat menggiurkan tersebut (padahal kue biasa sih),
mempunyai akal licik pada saat itu untuk memanfaatkan adik saya yang masih kecil
dan belum berpuasa untuk melancarkan aksi bulus itu (astaghfirullah..-_-).
Karena adik saya terbilang cukup takut pada saya karena masih galak padanya
saat itu jadi mudah untuk menyuruhnya. Ia pun dengan sukarela menuruti apa yang
saya katakan padanya untuk mengambil makanan itu dan memberikan sebagiannya
pada saya dengan catatan dia harus tetap tutup mulut. Dan saya pun dengan
entengnya dan tanpa beban memakan kue tersebut dengan lahap di tempat yang saya
kira sudah aman. Dan tahu apa yang terjadi berikutnya? Kakak perempuan saya
ternyata memperhatikan saya dari sejak lama, dan ketika mata kami saling
bertemu, saya kaget bukan main, saat itu dunia serasa runtuh, maluuuu sekali
seakan-akan saya sudah berbuat dosa sebesar gunung. Saya pun mencoba merayu kakak
untuk tidak mengadu kepada mamah dengan merengek. Ia hanya tersenyum sinis dan
bisa saya tebak, ia melaporkan kelakuan saya kala itu kepada mamah. Bukannya
marah, mamah hanya tertawa mendengar penjelasan dari kakak, dan alhasil
kelakuan bodoh saya kala itu menjadi obrolan hangat dan selalu diceritakan
kepada kerabat/keluarga yang datang ke rumah membuat saya malu setengah mati. Saat
itu saya tidak suka dengan kakak perempuan saya yang satu itu.
Waktu
terus berlalu, tibalah saat dimana adikku ini masuk sekolah dasar. Kala itu
ketidaksukaan ku padanya mulai berkurang walaupun masih menyisakan sedikit
rasa. Saya masih bersyukur pada waktu dia masuk SD bertepatan dengan saya masuk
SMP. Jadi aman pikirku saat itu tidak perlu repot-repot jagain adik dan tidak
harus bareng berangkat ke sekolah nya karena memang kami berbeda jurusan (haha,
jahatnya). Ada suatu kejadian menyebalkan yang saya ingat ketika dia sudah
masuk SD adalah ketika saya sudah berbaik hati ingin membantunya dalam belajar
dan mengerjakan tugas rumahnya karena ia terlihat sudah berputus asa dalam
mengerjakannya, sampai ia pun menangis karena tidak bisa mengerjakan tugas
rumahnya itu, dan saya pun dengan sadar diri (sebenarnya rada dipaksa sama
nenek dan mamah) ingin membantunya, tapi ia sambil tetap menangis dan dengan
sombongnya berkata: “Gak mau dibantuin,
teteh mah da gak akan bisa!!”. Haah, ni anak pengen dijitak apa ya. Murka
saya pada saat itu. Gue udah SMP, nah elu? Masih SD juga udah belagu (kesal
tingkat kabupaten). Akhirnya saya tinggalkan ia sendiri di ruangannya dengan
hati yang gondok. Fyuuh.
******* To be continued *******
******* To be continued *******
Oia, di bawah ini kira-kira beginilah ekspresi kami saat sedang tidak akur. (aslinya lebih seram dari ini sepertinya. haha :D )
![]() |
| -aish.photoscollection- |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar