Yang
namanya adik kakak tidak akan terlepas dari konflik, begitupun dengan kami.
Hampir setiap hari ada saja hal yang menjadi penyebab kami bertengkar, yang
pada akhirnya terkadang diakhiri dengan tangisan dan aduan adik saya pada
mamah, dan lagi-lagi saya yang kena cipratan marah. Tapi kata-katanya sih menurut
penelitian pertengkaran antara adik kakak itu suatu hal yang biasa dan wajar,
karena itu merupakan suatu bentuk komunikasi lain dan rasa bentuk kasih sayang
yang lain. (Tsaaahh). Walaupun begitu tanpa disadari saya mulai menyayangi adik
saya yang satu-satunya ini, apalagi semenjak saya di SMA dan mulai sibuk dengan
sekolah serta organisasi yang saya ikuti di sekolah yang otomatis cukup
menguras waktu saya di luar, sehingga sering pulang sore dan waktu luang di
rumah pun saya gunakan untuk bercengkrama bersama tugas-tugas sekolah dengan
mengurung diri di kamar pada malam hari dan interaksi dengan adik saya pun
berkurang. Lama kelamaan saya mulai merindukan interaksi dengannya walaupun
dalam bentuk “pertengkaran”. Mungkin karena saya sudah sedikit dewasa pada saat
itu, saya pun mulai mengurangi sikap egois saya sebagai seorang kakak dan mulai
mencair padanya. Saya sudah tidak segan untuk bercerita tentang sekolah saya
ataupun kejadian-kejadian yang saya alami di sekolah pada adik saya itu. Karena
salah satu kelebihannya yang saya acungi jempol adalah amanahnya ia dalam
menjaga rahasia. Terbukti ia tidak pernah bocor menceritakan apa yang sampaikan
pada orang-orang di rumah sekalipun. Dan itu yang membuat saya nyaman bercerita
kepadanya walaupun pada saat itu ia masih kelas 5/6 SD dan mungkin ada beberapa
hal yang ia tidak mengerti, yang penting saya cukup puas meceritakan keluh
kesah, ia selalu siap kuping untuk
menjadi pendengar setia. Ternyata ia memang adik yang baik. Dan kami pun mulai
akur, malah setiap ada yang tiba ulang tahunnya tak segan-segan saling memberikan
kado, sampai sekarang pun kebiasaan itu masih terjaga, sehingga ketika ada
salah satu yang terlambat memberikan kado nya siap-siap saja ada yang terus
menagih nantinya. Hehe.
Ada
beberapa hal lain yang membuat saya semakin sayang padanya. Ia anak yang rajin
membantu mamah tanpa harus di suruh, ia salah satu cucu kesayangan nenek dan
alm.kakek karena tangannya yang sering memberikan pijitan terbaik ketika nenek
dan kakek dalam keadaan lelah. Dan harus saya akui dia anak yang cantik dan manis
:). Walaupun secara garis wajah dia paling beda sendiri dari ketiga kakaknya,
bentuk wajah yang gak ada mirip-miripnya dengan mamah bapak maupun
kakak-kakaknya. Hehe. Kadang-kadang kami sebagai kakak usil mencandainya dengan
menyebutnya dia bukan anak mamah bapak karena tidak mirip dengan siapa-siapa,
tentunya kami tertawa-tawa dan berhasil mem-bully
dan membuat dia memanyun-manyunkan bibirnya beberapa centi ke depan. Haha. Adik
bungsu kami ini memang lucu sekali.
Hingga
tibalah saatnya saya meninggalkan rumah untuk menimba ilmu di Bandung di
Universitas Pendidika Indonesia pada tahun 2009 dan bertepatan dengan ia masuk
SMP. Ternyata ia lebih memilih untuk melanjutkan sekolah menengahnya di
Madrasah Tsanawiyah (MTs) swasta di dekat rumah, tidak mengikuti jejak saya
yang sekolah di SMP negeri. Ya itu lah pilihannya sendiri, insyaAllah yang
terbaik. Dan hari-hari pun saya lalui jauh dari keluarga dan tentunya jauh juga
dari adik saya. Entah kenapa semenjak saya masuk kuliah, rasa sayang saya
terhadapnya semakin bertambah dan bertambah, tidak lagi tersisa rasa benci atau
pun tidak suka sedikitpun padanya. Saya sadar saya punya adik manis yang harus
saya arahkan, karena saya mulai menyadari tugas saya sebagai kakak yang harus
memberikan suri tauladan yang baik padanya. Dan disinipun saya seolah-olah
menjadi seorang adik yang diperlakukan istimewa oleh kakak-kakak di kostan
maupun di kampus. Dari sana saya bertekad untuk menjadi kakak yang baik juga
untuk adik saya di rumah. Dia menjadi salah satu yang saya kangeni ketika
datang ke rumah, dan saya pun tak canggung bercerita mengenai kehidupan saya di
kampus padanya, dan ia dengan setia seperti dulu mendengarkan saya bercerita.
Kali ini pun saya tidak ingin kalah, walaupun ia sedikit pendiam tapi saya
mencoba menanyakan keadaannya di sekolah. Alhamdulillah ia pun sedikit
banyaknya mulai bercerita mulai dari sekolah, organisasi sampai hal pribadi
semisal ada pria yang mulai memberikan perhatian lebih padanya. Hey pria, jangan
ganggu dan jangan membuat adikku kesal ya!!
Sepertinya
ia pun mulai nyaman denganku dan mulai mengikuti apa yang saya pakai dan sukai. Biasanya naluri seorang adik memang begitu, melihat kakaknya dan mencoba jadi follower nya. (Ge-eR) hehe. Tapi serius, salah satu nya bisa dilihat dari mulai
perubahannya berbusana yang ingin menyamakan dengan apa yang saya pakai dan
menyukai apa yang saya suka (contoh warna dll). Ia yang kala itu masih SMP
harus mulai merayu mamah untuk membelikannya rok, gamis dan khimar (kerudung) yang
bisa dibilang cukup panjang di kalangannya karena melihat kakaknya yang sudah
melakukannya. Mamah yang kala itu masih menganggap adik ku itu masih kecil
kurang setuju kalau sudah harus mengenakan rok dan gamis, karena pikir beliau
kurang modis untuk anak seusianya dan saya pun kena cipratan mamah karena
menyalahkan saya sebagai biang keladinya, “Tuh,
gara-gara teteh, jadinya adek ikut-ikutan pakai rok. Kurang modis untuk seusia
dia.”. Saya hanya bisa senyum dan mesem-mesem dan mencoba meyakinkan mamah
bahwa adik tetap cantik dengan berbusana seperti itu. Dan alhamdulillah lama
kelamaan mamah pun mengerti dan malah sekarang sering menyuruh kami membeli
pakaian yang samaan ketika lebaran tiba. Rupanya mamah pun tidak mau kalah
dengan anak-anaknya, beliau juga mulai memperbanyak koleksi gamis dan roknya.
“Virus” akhirnya berhasil saya sebarkan di rumah, bahkan nenekpun terkena.
Sampai-sampai setiap saya memakai khimar panjang yang baru setiap pulang ke
rumah, nenek tak mau kalah ingin mempunyai yang serupa dengan warna yang
berbeda. Ah, bahagianya hidup ini ketika bisa
menyebarkan kebaikan di rumah sendiri.
![]() |
| Ini salah satu baju kami yang sengaja disamakan ^_^ |
Dan
adik saya pun makin mantap dengan apa yang dikenakannya, walaupun terkadang
masih suka komentar bahwa khimar saya kepanjangan. Hehe. Tapi saya mencoba
meyakinkan bahwa saya nyaman dan berharap ia pun bisa memanjangkan khimarnya
sedikit demi sedikit, kembali ia hanya tersenyum. Tapi saya yakin ada keinginan
besar di matanya dan waktu yang akan menjawab.
![]() |
| kompak...^_^ |
Ada
beberapa kekurangan adik saya yang sebenarnya masih bisa diperbaiki.
Diantaranya ia kurang terbuka terhadap permasalahan yang ia punya, terkadang
dipendam sendiri. Memang sih tidak semua masalah harus diceritakan kepada orang
lain, akan tetapi memang ada saatnya ia harus menceritakan sedikit
permasalahannya kepada keluarga ataupun kakak sendiri. Kemudian ia juga kurang
percaya terhadap dirinya sendiri dan cenderung minder, padahal banyak kelebihan yang bisa ia eksplor
untuk menjadi lebih baik. Terlalu fokus terhadap kekurangan diri terkadang juga
tidak bagus dik.
Ah,
apapun kekurangannya yang pasti semakin hari saya semakin sayang dan cinta pada
adik saya. Beruntung dianugerahi adik sepertinya. Saya ingin menjadi sosok
“kakak” yang sebenarnya. Ingin yang terbaik untuknya. Saya ingin ia lebih baik
dari kakaknya dari segi apapun. Segala kelebihan kakaknya bisa ia ambil dan
segala kekurangan kakaknya bisa ia jadikan pelajaran agar ia tak mengulang
kesalahan yang sama.
Dengan
penuh kesadaran, saya ingin mengucapkan sesuatu kepada adik saya, “Uhibbuki
fillah.. Teteh sayang cici karena Allah :’) ”
Gerlong, 19
Maret 2013 dinihari jam 01:25


Tidak ada komentar:
Posting Komentar